Berbalas pesan

Berdasarkan surat yang masuk pada tanggal 17 maret 2025, berikut hasil analisis kami.

Saat Nadia mengatakan bahwa di laci ku ada surat darimu, aku kaget. Aku kaget karena sesering itu kita bertukar sapa dan berinteraksi tapi kamu masih sempat sempatnya menulis surat sepanjang ini. You are really something.

Mungkin ada beberapa hal yang belum sempat kita bicarakan, namun layak untuk dibahas, hanya saja aku tidak sadar bahwa banyak hal akhirnya mengganggu pikiranmu, uswah. Sejak kamu mengajak aku untuk bergabung di 308, aku banyak berdiskusi dengan diriku, semacam, apa pilihan ini tepat? Apa aku bisa belajar hidup bersama orang lain? Banyak pertanyaan mengganggu ku. Lagi lagi karena ini pertama kalinya aku akan hidup bersama orang lain dalam waktu jangka panjang selain dari keluargaku.

Aku tidak sempat berbincang, betapa kepala ku berat rasanya untuk beradaptasi, ternyata beradaptasi kali ini berbeda, lebih berat daripada mengenal mahasiswa baru, ananak KKN, para kenalan komunitas, atau apa pun itu. Beradaptasi dengan tempat tinggal ternyata tidak semudah itu, aku mengakuinya. Beratnya karena aku paham, aku bukanlah orang yang rapi, rajin, atau bersih, aku mengakuinya.

Banyak hal terjadi dalam hidupku, uswah. Buatku jadi jarang sekali menghabiskan waktu di kos selama tiga tahun kebelakang. Kos hanyalah menjadi tempat tidur, sedang makan, belajar, bermain akan ku temukan di tempat lain.

Berpindah ke 308 buatku sadar bahwa banyak kebiasaan yang perlu aku ubah, mungkin terdengar bahwa aku tidak bisa menjadi diriku sendiri, namun ini bermakna baik dalam kamusku. Aku jadi belajar untuk menjadi pribadi yanag lebih baik. Aku berusaha belajar untuk rajin bebersih dan merapikan barang barang di kamar.

Awal kepindahan, aku yakin kamu sadar akan kecanggungan dan rasa canggungku ketika berada di kamar ini. Sungguh asing rasanya. Ini sangat jauh berbeda dari KKN, walaupun pada saat itu kamu ada, tapi intensitas kita berinteraksi jadi semakin sering saat di 308. Jujur, saat awal awal aku berusaha menghindar, di kamar secukupnya, dan pergi selama mungkin. Ini bukan hanya soal sibuk, ini soal diriku yang belum bisa beradaptasi.

Lambat laun, akhirnya aku mulai bisa membiasakan diri berada di 308. Mulai dari waktu dan tempat yang tepat untuk mencuci dan menjemur, kapan waktu yang tepat untuk masak, makan, bebersih, berbincang. Tanpa aku sadari aku bisa mengikuti ritme aktivitas orang orang di kamar ini.

Dulu sekali aku lebih sering menolak saat kamu tawari makan, tawari ini, itu, karena memang berat bagiku untuk menyesuaikan diri dengan kondisi baru ini. Semakin kesini aku yakin bahwa love language kamu ada giving. Kamu sangat suka berbagi, dari makanan, tempat, waktu, dsb.

Alasanku selama ini tidak pernah berusaha untuk memberitahu tanggal lahir atau zodiak itu karena itu bukan hal yang spesial, seperti yang pernah ku ceritakan, alasannya masih sama. Saat kamu bilang bahwa kamu tahu data data tersebut, aku amazed, kayak kok bisa kamu tahu? padahal selama ini aku rasanya tidak pernah secara gamblang bilang. Kamu sepertinya bisa menghubungkan antara satu puzzle ke puzzle lain, sehingga kamu bisa dapat jawaban yang utuh atas apa yang buat kamu penasaran. Aku ga merasa terganggu kok saat kamu tahu, aku hanya kagum karena kamu seperhatian itu ya, padahal lagi lagi menurutku itu ga penting penting banget. Terimakasih ya sudah perhatian, uswah.

Mengenai interaksi di antara kita bertiga, tentu aku juga memikirkan hal ini. Aku sadar bahwa interaksi ku dengan kamu ini benar benar susah untuk dibatasi, kita terbiasa berbagi cerita, berbagi waktu, serta berbagi aktivitas sejak di labuan bajo. Saat aku menghadapi nadia, aku berusaha untuk mencoba berinteraksi, walaupun aku yakin jenis perbincanganku dengan nadia ini tergolong basa basi banget, tapi memang itu perlu, karena kalau tidak aku yakin aku hanya berbincang denganmu. Ini bukan karena aku tidak nyaman dengan nadia, ini hanya karena perbedaan kepribadianku dengan nadia, beberapa topik agak sulit ku biacarakan dengannya. Tenang saja, aku selalu berusaha kok untuk mensejajarkannya.

Aku berusaha untuk menjadi sosok teman untuk nadia, karena menjadi sosok kakak sepertinya lebih cocok untuk kamu, uswah. Teman bicara, makan, beraktivitas, dsb. Kamu ga lebay kok dengan menjadi manusia perasa, justru itu kelebihanmu yang buat aku kagum. Kamu peka akan sekeliling, aku begitu sensitif dengan perasaan orang lain, kamu berusaha untuk bisa selalu membantu orang lain, tapi pasti berat ya untuk jadi seperti itu, kamu seperti selalu menjadi si sulung. Kalau sama aku, kamu bisa jadi si bungsu sih wkwkwk.

Momen momen ketika kamu dan nadia pergi ke toserba adalah momen momen yang tidak begitu aku ingin ganggu, aku rasa kalian tetap butuh waktu bersama. Kamu mungkin taunya aku sibuk, tapi selain itu, sebenarnya aku memang berusaha untuk memberikan waktu untuk kalian berdua. Mengenai kebiasaanku yang pergi kemana mana sendiri sebenarnya aku sering terkendala dengan waktu yang ku miliki dengan orang lain, aku sering menemukan waktu di mana aku terlalu cepat dibanding orang lain, begitu sebaliknya. Oleh karena itu, aktivitas seperti berbelanja dan pelancong cenderung aku lakukan sendiri. Ada masa dimana aku tidak perlu memikirkan keadaan, aku kadang butuh waktu untuk memikirkan diriku sendiri, salah satunya dengan me time.

Saat bersama orang lain aku memang cenderung memikirkan kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi. Mungkin karena insting mendominasi ku muncul, dan berusaha untuk menaklukan berbagai keadaan.

di saat kamu mendengar percakapanku di telefon, tentang aku yang pura pura excited, ini bukan tentang kita, ini tentang banyak hal, aku memang ga pernah cerita secara komprehensif mengenai hal ini ke kamu, tapi memang konteknya dalam, aku lelah dengan banyak hal, ketemu teman, dosen, kenalan, siapa pun itu. Aku hanya butuh waktu sejenak. Aku dikasih jeda saat berada di 308.

Excited didepan kamu saat itu bukan berarti aku pura pura, memang di beberapa keadaan aku senang, senang kamu jadi teman cerita, aku senang kamu disini. Lagi lagi aku tekankan, pura pura excited bukan hanya tentang berada di 308, ini lebih kompleks dari yang bisa aku ceritakan lewat lisan dan tulisan ini. Mungkin itu yang buat aku ga cerita banyak ke kamu saat itu, karena konteksnya luas dan dalam, aku bingung mulai dari mana. Segalanya terasa berat, uswah. Sekarang lebih baik tentunya.

“kamu memastikan semua orang baik baik saja, tapi tidak semua orang memastikan kamu baik baik saja,” ah, iya ternyata aku lebih sering mementingkan orang lain, dibandingkan aku sendiri, bukan hal menyedihkan, tapi sebenarnya aku senang saat bisa memastikan orang orang baik baik saja, situasi baik baik saja, rencana baik baik saja, ataupun itu. Aku hanya terbiasa untuk membuat segalanya berjalan lancar, tanpa hambatan. Nyatanya memang aku sering lupa bahwa aku sering melupakan keadaanku, jarang memastikan diri ini baik baik saja, membiarkan diri ini larut dalam perasaan aneh. Mungkin ini pula yang menjadi titik balik aku sakit beberapa waktu lalu. Sakitnya mentalku karena kurangnya maintenance aku dan diriku. Hingga tiba diri ini harus memulihkan diri dengan waktu yang tidak sedikit, uang yang tidak sedikit, pengorbanan yang tidak sedikit, tapi semua itu terbayarkan untuk mental yang lebih sehat. Terimakasih sudah mengingatkanku, uswah. Terimakasih sudah menjadi salah satu orang yang memastikan aku baik baik saja.

Kamu merasa aku takut untuk menampakkan emosi? Ya kamu benar. Kamu memang pengamat yang handal, uswah. Aku sepertinya sering sekali menyembunyikan emosi asliku, aku berpura pura bukanlah suatu kesengajaan, tapi di beberapa saat aku hanya yakin emosi ku perlu ku redam sementara, emosi ku bisa aku tangani nanti, saat aku sudah bisa mengendalikan situasi.

Mungkin kamu sedikit banyak melihat bagaimana aku di labuan bajo. Memperioritaskan kepentingan kelompok daripada individu dan mencoba menekan emosi sendiri untuk keberlangsungan tim. Lagi lagi aku tidak bermaksud, aku hanya berusaha mengendalikan segalanya, agar perasaanku lebih baik, mungkin itu yang bisa membuat emosiku membaik.

Aku paham tidak semua hal bisa aku kendalikan, tapi setidaknya aku berusaha. Aku berusaha bertanggung jawab dengan komitmen yang ku punya. Aku berusaha bertanggung jawab dengan pilihan yang ku buat. Ini hanya tentang tanggung jawab buatku.

Seringnya kamu melihat aku menahan diri, menekan emosi, bukan berarti setiap saat aku melakukan itu, atau mungkin aku salah mengekspresikan diri. Ah, aku memang tidak pandai bagian ini. Nyatanya kamu menjadi salah satu orang favoritku, bahkan sejak di labuan bajo. Kamu buat aku nyaman, uswah. Mungkin hal hal seperti ini jarang aku tunjukan ya, atau tidak terlihat jelas, padahal nyatanya kamu terang benderang dalam hidupku. Dari banyaknya manusia dalam hidupku, kamu sangat bersinar, menyinari dan terus memberikan harapan kepada sekeliling.

Kalau soal kamu ngedumel, aku ga pernah mempermasalahkan itu. Aku suka kok dengar kamu ngedumel, mungkin listen to ngedumel jadi love language ku wkwkwk. Aku paham kok kalau ngedumel tuh sebenarnya kalian perhatian, tapi geram kalau kita kita ini kerjanya ga beres, aku paham kok. Lanjut aja, aku sudah terbiasa sepertinya. Karena seringnya kamu ngedumel reaksiku Cuma ketawa ketawa aja ahahahah.

Terimakasih untuk membahas beberapa topik yang tidak sempat kita bahas, karena ini ternyata penting bagi keberlanjutan hidup warga 308.


- sampe 5000 kata nih, berasa nulis satu chapter cerita

Comments

  1. terompet kapal sudah berbunyi 3 kali dan mungkin setelah ini aku juga akan lanjut menulis blog, aku bahkan tidak berekspektasi kamu akan menulis di blog terkait ini but, syukron jazilan zah lagi dan lagi saasytaqu ilaiki :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pancarona Labuan Bajo

We listen, we don’t judge

Yogyakarta: Home of History