The Untold Story

Semalam, selepas selesai kerjaanku di prodi, aku merakit pc dan cpu yang sudah tidak digunakan lagi dari prodi. Memindahkan segala perlengkapan ke kamarku yang ada di dormitory, memulai dengan memasang kabel vga, kabel power, sampai keybord, dan akhirnya selesai. Namun, aku menemukan masalah lain yang mana tidak bisa terkoneksi dengan wifi. Berusaha menonton youtube namun tak juga mendapat jawaban.

Memilih untuk menghubungi hilman, salah satu sahabat dari zaman SMA ku yang sekarang menempuh Pendidikan di bidang Teknik informatika. Menanyakan berbagai pertanyaan yang kemudian di jawab oleh hilman. Well, sebenarnya kami biasanya manggil dia “Man”, and he is fine at all. We started with the topic about device and anything, but it turns out kami ngobrolin banyak hal, termasuk kisah kisah yang ga pernah hilman cerita selama 6 tahun pertemanan kami.

Hilman bilang bahwa dia susah banget cerita saat kami SMA. Pada saat itu, kamu banyak terdiam, termenung, dan membangun benteng tinggi yang menahan setiap orang untuk dekat denganmu. Saat itu aku selalu pengen tau apa isi hatimu. “Kamu lagi mikirin apa ya, Man?”, kamu butuh cerita ga, Man?”, “kamu mau ditemani ga, Man?”, sebenarnya awalnya kamu ga sesusah itu didekati. Di tahun terakhir kita SMA, kondisi itu rasanya memburuk. Memburuk karena patah hati.

Hilman cerita bahwa menjelang lulus dia punya teman baru yang akhirnya menjadi awal dia menjadi sosok yang lebih terbuka, dia bukan lagi menjadi si pendengar,tapi yang bercerita. Sayangnya teman barumu meninggal setahun lalu. Salah satu duniamu akhirnya pergi, seseorang yang buat kamu lebih terbuka dan juga cair sekarang. Saat dengar kamu akhirnya menemukan seseorang yang bisa jadi pendengar, aku senang banget, Man. Bahkan saat aku nulis ini aku sampai nangis karena kamu ga menahan dan menyembunyikan lagi beban itu dariku, Man. Sakit banget soalnya ngeliat kamu ga bergairah hidup, sakit banget ngeliat kamu bareng kita semua, tapi jiwamu entah kemana, Man.

Semalam kamu kasih disclaimer, “kalian juga penting di hidup saya”, kalimat yang sebenarnya sederhana tapi sebenarnya hanya ingin menekankan bahwa bukan tentang tergantikan atau tidak, tapi setiap orang punya tempat tersendiri di hatimu. Rather than cemburu, aku malah Bahagia, Man. Kamu cerita aja tuh buat aku terharu, semalam.

Di topik lain, kamu merasa jadi tumbal ketua OSIM. Saat itu kita semua ga sadar, karena ya kamu sepertinya yang paling kompeten di antara semuanya. Tapi ternyata dari sisimu, kamu ngerasanya malah jadi tumbal dan hanya mengamankan posisi. Aku dan yang lain pada saat itu bahkan buat yel-yel untuk kamu dan eneng, paslon no. 1 pada saat itu. Kamu akhirnya tau saat kita harus nampilin itu sebagai perwakilan paslon. Kamu cerita bahwa kamu sebenarnya ngerasa ga butuh, tapi akhirnya di momen itu kamu merasa bersyukur.

Kamu memang orang yang full of surprise ya, Man. I know people come and go, but I hope that we stay for a long time. Even though kita jarang berkomunikasi, tapi kamu selalu punya tempat di hatimu. Seorang pendengar yang baik, dan juga teman deeptalk yang luar biasa.

You deserve the world. Semoga kamu sehat selalu ya, Man.

Comments

Popular posts from this blog

Perihal Raga

We listen, we don’t judge

Pancarona Labuan Bajo