Menjadi Tangan Kanan

Biasanya kalau orang mengandalkan gw, perasaan yang muncul cuma ada satu, yaitu bangga. Yep, bangga terhadap diri sendiri karena gw mampu menunjukkan bahwa someone can rely on me. Hari ini gw malah ngerasa ada dua perasaan yang muncul, yaitu bangga dan tertekan. Mungkin karena gw dipuji saat gw sedang di interview proposal untuk posisi baru bersama calon calon lain kemudian di apresiasi oleh atasan pada saat itu.

 

Gw ngerasa gw keren karena bisa ditahap itu, menjadi tangan kanannya, namun di satu sisi gw tertekan karena gw sudah yakin kalau mereka akan pilih gw dan interview ini hanyalah sebuah formalitas. Sial, gw rasa gw lebih nyaman jika di kritik didepan banyak orang disbanding dipuji didepan competitor lain. Rasanya lebih annoying karena sudah pasti mereka akan tambah marah, kesal, dan makin benci sama gw.

 

Di keadaan dimana atasan gw muji gw dengan kalimat, “nana itu tangan kanan saya”, was the moment dimana gw ngerasa it was “game over”. Kek gw udah menang tanpa harus jawab pertanyaan interview dengan banyak strategi, mungkin karena mereka ngeliat gw dari track record gw beberapa tahun terakhir yang bisa dibilang gw orangnya punya komitmen tinggi, konsisten, serta berintegritas.

 

Setelah gw refleksi kembali, gw sadar kalau misal gw saat ini yang bisa di andalkan pernah di fase terima telfon tengah malam dan pagi buta buat dikasih kerjaan, pernah buat gw didepan laptop berjam jam, pernah buat gw harus koordinasi sama banyak pihak alias kek event organizer, pernah menata data seperti document controller,dsb.

 

Gw yang sekarang tentu bukanlah hal yang instan seperti menyeduh oat milk dalam 2 menit atau semudah membuat menu sarapan cereal, namun dari dari berbagai tahap yang gw lalui yang sungguh panjang dan berliku itu. Seperti pepatah “Terbentur, terbentur, terbentuk”. Perjalanan ini membawa gw ke titik dimana gw sekarang.

Comments

  1. ماشاءلله بارك لله فيك يا عزة. أنا سعيد أيضا, بعد قرأة هذا الكتابة. أنا متأكد انت تستعين أن تفعلين ذالك

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Perihal Raga

We listen, we don’t judge

Pancarona Labuan Bajo