Posts

Himpunan: satu periode telah usai

 Alhamdulillah, tugas sebagai ketua himpunan selesai. Di himpunan, banyak hal yang sudah dilalui. Dari lentera ramadhan, PBI’s Got Talent, English Class, Community Service, Milad ke 26 Prodi, SECTION, dsb. Perjalanan ini tentu tidak mudah bagiku, perjalanan ini awalnya terasa panjang, namun sekarang setelah dilalui terasa begitu singkat. Menulis ini pun aku merasa sangat emosional, rasanya campur aduk. Kalau ditanya apa hal yang paling membahagiakan di himpunan? Di kelilingi oleh orang orang yang mau berjuang bersama. Terimakasih atas bimbingannya selama ini, ibu kajur, sekjur, dan para dosen prodi. Terimakasih telah membersamai dan bekerja bersama, para pengurus dan mahasiswa prodi yang sudah tentu tergabung di himpunan. Terimakasih kepada para alumni serta stakeholder yang sudah ikut berpartisipasi dalam suksesi program kerja. Dalam rapat perdana dengan pengurus, kepanitiaan, bahkan mahasiswa baru, ada 7 nilai yang ku sampaikan yang menjadi pegangan bersama, diantaranya ialah: 1....

We listen, we don’t judge

Tren saat ini yang sangat digandrungi oleh khalayak umum, ‘we listen we don’t judge’. Tren ini akhirnya malah membuka lembaran masa lalu ketika awal kenal diriku dengan setiap orang. Tren yang akhirnya menyadari betapa banyaknya hal dalam hidup ini yang berubah. Tren ini muncul mungkin karena kita ingin seseorang mengatakan hal kurang baik tentang diri kita tanpa mereka merasa offensive. Hari ini tanpa sengaja bergabung dengan teman sebaya, senior, bahkan dosen di prodiku. Kami mencoba melakukan tren ini, dengan aku sebagai objeknya. Wafiyah, ismail, dan wafi, ketiga teman sebayaku yang sepertinya mempunyai persepsi yang sama tentangku di awal kami berkenalan. Mereka mengatakan bahwa aku adalah orang yang sok asik, orang pertama yang mengirim teks kepada mereka secara personal dan menawarkan untuk bergabung di grup angkatan tanpa senior himpunan. Mereka juga beranggapan aku orang aneh karena cara bicaraku yang berbeda pada saat itu. Sudut pandang lain, kak cica, seniorku di prodi, ...

Parallel Storyline: Part 2

Libur semester ini akhirnya gw bisa pulang. Finally, gw bisa ketemu orang orang terkasih eaaaa. Selama beberapa tahun terakhir gw selalu ambil jatah libur semester gw buat agenda himpunan atau ga volunteer. Karena posisi gw penting banget di himpunan, kayak buat konsep kegiatan terus juga gw ikut kegiatan pengabdian di salah satu sekolah selama satu semester buat jadwal gw padat banget. Gw jadi harus ngurusin Pelatihan Mandeley yang dijadwalkan buat Angkatan gw, dengan nyiapin absen, koordinasi dengan Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, sampai harus ngecekin perlengkapan pelatihan. Kalau dipikirin gw males banget karena ternyata jadi repot sendiri deh gw. Teman teman divisi udah pada pulang karena ada panggilan keluarga semua, sedangkan gw masih disini sini aja ngurusin hal yang ga ada habis habisnya. Belum lagi, gw siapin materi ajar buat pengabdian Masyarakat, asli ini gw harus riset dari kebutuhan siswa sampai media apa yang bisa gw pakai nantinya. Akhirnya gw libur seki...

Menjadi Tangan Kanan

Biasanya kalau orang mengandalkan gw, perasaan yang muncul cuma ada satu, yaitu bangga. Yep, bangga terhadap diri sendiri karena gw mampu menunjukkan bahwa someone can rely on me. Hari ini gw malah ngerasa ada dua perasaan yang muncul, yaitu bangga dan tertekan. Mungkin karena gw dipuji saat gw sedang di interview proposal untuk posisi baru bersama calon calon lain kemudian di apresiasi oleh atasan pada saat itu.   Gw ngerasa gw keren karena bisa ditahap itu, menjadi tangan kanannya, namun di satu sisi gw tertekan karena gw sudah yakin kalau mereka akan pilih gw dan interview ini hanyalah sebuah formalitas. Sial, gw rasa gw lebih nyaman jika di kritik didepan banyak orang disbanding dipuji didepan competitor lain. Rasanya lebih annoying karena sudah pasti mereka akan tambah marah, kesal, dan makin benci sama gw.   Di keadaan dimana atasan gw muji gw dengan kalimat, “nana itu tangan kanan saya”, was the moment dimana gw ngerasa it was “game over”. Kek gw udah menang tan...

Parallel storyline: Part 1

Sore itu hujan turun begitu deras, diiringi oleh uap panas dari bakso yang ku makan, rasanya momen itu sangat pas dan juga indah. Menjelang magrib, genangan air itu semakin besar dan tinggi, menutupi jalan raya yang begitu lebar didepanku.   ‘Mungkinkah aku harus pulang sekarang?’,Begitulah kiranya yang ku pikirkan saat itu. Berangkat tanpa persiapan buatku sudah sangat yakin kalau menerobos sekarang aku akan berakhir basah kuyup. ‘Apakah aku berteduh saja di tempat terdekat yang lebih aman? Atau pulang dengan basah kuyup dengan pandangan kabur saat mengendarai motor?’ sepertinya singgah ke tempat yang lebih aman jadi pilihanku saat itu. Menepi di salah satu pom bensin yang ada di kota ku. Berlari menuju musholah untuk menunaikan kewajiban shalat magrib. Mendapat telfon darinya dan menanyakan “kamu dimana? Kenapa belum shalat?” Pertanyaan sederhana yang muncul karena aku membuat unggahan tentang terjebaknya aku di suatu tempat. “aku di pom bensin, terjebak hujan dar...

They don’t say I love you but…

Memaknai setiap perjalanan yang dilalui, aku akhirnya sangat bersyukur karena dibiarkan untuk melaksanakan, menemui, bahkan mengunjungi tempat yang ku inginkan. Dari kecil, orang tua ku adalah orang yang cukup protektif terhadap segala kegiatanku, agenda dari A-Z harus mereka tau, well walaupun ga disuruh juga aku bakal tetap cerita.   Bahkan di saat aku sakit tipes menghadapi Ujian Akhir Madrasah when i was in high school, mama akhirnya punya solusi biar aku bisa tetap belajar bersama teman temanku, yaitu dengan ngundang mereka ke rumah yang pada saat itu adalah nunu dan wadan, my two closest friends. Graduated from high school, akhirnya aku diberi kebebasan penuh untuk mengambil keputusanku sendiri. Hobi ku yang awalnya hanya berenang akhirnya bertambah jadi traveling. Dari mulai travel ke mataram untuk ujian masuk perguruan tinggi. Menggunakan maps, observasi, dan juga riset buatku jadi menikmati perjalanan tersebut. Sepulang dari mataram, 3 hari berikutnya akhirnya aku harus ...

Break the rules: is it really me?

“I was consistently doing what I have to do,” Sepertinya itu yang ku katakan kepada diriku sendiri beberapa tahun yang lalu, saat aku begitu kaku dan disiplin dengan prinsip yang ku miliki. Prinsip yang menurutku tidak bisa di ubah oleh siapapun. Saat itu aku sadar bahwa I’m not an easy person, aku ga mudah luluh, ga mudah mentolenransi banyak hal yang tidak sesuai dengan nilai yang ku pegang. Mungkin itu juga yang membawaku ga punya banyak kenangan manis selama SMP.  Disaat teman temanku begitu mudahnya have fun dan melakukan banyak hal saat beranjak remaja, aku selalu menarik diri karena aku ngerasa aku sangat ga bisa bergabung dan menikmati aktifitas fun yang mereka lakukan, aku selalu ngerasa semua itu ga penting dan bermakna, terlebih buang buang waktu. Aku memang manusia praktis saat itu. “aku terlalu kaku bahkan untuk diriku sendiri” Saat itu, dibanding ngumpul dengan dengan teman temanku, aku malah pergi ke timezone buat main Pump a.k.a olahraga kaki. “apa karena ak...